Pelatih tersukses Barcelona tentu saja Pep Guardiola. Anak muda modis berusia 40 tahun itu menyulap Barcelona menjadi klub paling atraktif tapi juga paling berprestasi.

Menukangi Barca sejak 2008 atau pada usia 37 tahun, Guardiola telah menyumbang tiga gelar La Liga dan dua gelar Liga Champions.

Tapi, tidak seperti Alex Ferguson, pelatih “seumur hidup” di Manchester United, Guardiola hanya mau menandatangani kontrak kepelatihan dengan durasi sangat pendek, yakni satu musim kompetisi.

Inilah alasan Guardiola:

“Ada risiko kamu kehilangan hasrat untuk apa yang kamu lakukan ketika kamu menandatangani kontrak jangka panjang,” katanya.

“Ini semua mengenai hasrat. Kekayaan terbesar yang bisa dimiliki seseorang adalah melakukan sesuatu yang kamu suka. Menurut saya, itulah esensi segalanya,” Guardiola menambahkan.

Hasrat atau passion atau gairah adalah dorongan terkuat dari dalam diri kita untuk mencapai sesuatu. Ia seperti mesin.

Agar punya hasrat, rahasianya pertama-tama harus menyukai apa yang dilakukan. Dari hasrat lahirlah target. Dengan target, gairah bekerja untuk mencapainya.

Hasrat bukanlah keterampilan teknis. Hasrat adalah keterampilan emosional. Gabungan antara keterampilan teknis (hard competence) dan keterampilan emosional (soft competence) merupakan kombinasi terindah untuk meraih sukses.

Lionel Messi, salah satu pilar terpenting pasukan Guardiola, bermain bola benar-benar seperti bermain, bukan bertanding. Ia menyukai pekerjaannya bermain bola, mengolah si kulit bundar, dan mencetak gol.

Gairahnya mencetak gol dan bermain bagus tidaklah datang dari keinginan mencetak gol dan bermain bagus, melainkan karena ia menyenangi gol-gol indah dan orgasme ketika bermain bagus.

“Kekayaan terbesar yang bisa dimiliki seseorang adalah melakukan sesuatu yang kamu suka,” kata Guardiola.