Kendati kondisi perekonomian global yang diprediksi masih akan tetap bergejolak pada 2012, Bank Indonesia tetap optimis nilai tukar rupiah akan menguat, karena tidak ada pilihan lain bagi investor untuk menempatkan dananya. Paulus Yoga
Nusa Dua, Bali–Bank Indonesia (BI) tetap optimis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2012, seiring dengan aliran masuk modal asing (capital inflow) yang diprediksi akan kembali menyambangi Indonesia.
“Investor tidak punya peluang besar dalam menempatkan dananya. Di Eropa dan Amerika Serikat mereka tidak mau menempatkan. Sementara itu, di antara negara berkembang Indonesia lebih baik,” ujar Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono, kepada wartawan di Nusa Dua, Bali, Jumat 9 Desember 2011.
Hal tersebut terkait dengan cukup banyaknya dana asing jangka pendek yang ditarik ke luar, menyusul gejolak perekonomian global akibat krisis berkepanjangan di Eropa. Para investor menarik dananya, dan menempatkan di mata uang yang dinilai lebih aman, atau yang populer disebut save heaven currency.
“Kita pupuk kepercayaan investor. Nah, ditambah investment grade nanti, inflow akan kembali. Jadi tren apresiasi akan kembali membaik,” tandas Hartadi.
Beberapa yang bisa menjadi indikator kepercayaan investor, lanjutnya, terlihat dari penerbitan surat berharga negara syariah globak (sukuk global), yang imbal hasilnya sudah turun ke level 4%.
“Sukuk global kita sekarang 4%, padahal pada tahun 2009 itu masih 9%. Negara di Timur Tengah, keluarkan global sukuk kena lebih mahal, sekitar 5%. Itu menunjukkan global apetite masih cukup besar ke kita, termasuk investor sukuk tadi yang menilai masih atraktif ke Indonesia,” terangnya.
Kendati demikian, ia menambahkan, ke depan penyelesaian krisis di Eropa tetap menjadi perhatian sehingga investor lebih percaya diri dalam menempatkan uangnya. Sementara untuk saat ini, dinilai pelemahan nilai tukar rupiah atau depresiasi sudah lebih terkendali dibanding tahun 2008.
“Jadi, bila dandingkan dengan negara-negara regional, depresiasi kita ada di tengah. Nah, fokus kita dalam situasi saat ini, bagaimana kita menyetabilkan pasar keuangan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar,” tutupnya.