Kalau kita bicara strategi perbankan, maka tiap-tiap perbankan yang ada pasti memiliki caranya yang unik dalam menerapkan strateginya untuk memenangkan kompetisi di market dan mengeruk profit sebesar-besarnya. Itu kata kuncinya, win the market and make profit! Walaupun setiap perbankan memiliki segmentasi, strategi, ataupun network yang berbeda, namun tujuannya sama. Artinya adalah perbankan di Indonesia pun sangat tergantung dengan seberapa ketatnya kompetisi pasar di satu sisi, tapi di sisi lain mereka harus tetap making profit.

Kedua hal itulah yang tidak serta merta membuat perbankan di Indonesia menyesuaikan pricingnya pada saat BI Rate diturunkan. Apalagi di kondisi krisis seperti ini, dimana resiko market semakin besar, maka perbankan memutuskan untuk sementara menahan laju kucuran kreditnya dan menggalang dana sebanyak-banyaknya, otomatis pricingnya pun masih tetap tinggi. Dilematis memang, di satu sisi Pemerintah menghimbau dan melakukan action-action yang dianggap perlu agar sektor riil dapat terbantu untuk mengatasi krisis global ini, dengan cara Go Domestic! Saya sependapat dengan hal itu, di saat seluruh dunia sakit seperti sekarang, yang dapat menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri alias perekonomian domestik.

Di sisi lain, perbankan selaku pihak “yang punya duit” masih terlihat enggan untuk jor-joran dalam penyaluran kreditnya kepada sektor ini karena memang secara business kurang feasible. Perbankan melihat tingginya resiko gagal bayar yang mungkin timbul dari sektor riil tersebut dikarenakan beberapa faktor seperti daya saing produk, manajemen usaha yang masih amburadul, birokrasi dan prosedur yang berbelit-belit, dan belum adanya regulasi yang tegas melindungi kepentingan dan keselamatan perbankan. Faktor-faktor ini pula yang dapat menjelaskan mengapa perbankan di Indonesia lebih senang bermain di sektor konsumtif, karena dipandang resikonya lebih kecil dan dapat mendatangkan profit yang lebih besar dan cepat.

Jadi, menurut saya penyesuaian pricing baru akan dilakukan perbankan sekitar 2-3 bulan ke depan setelah penyesuaian BI Rate dilakukan. Mengapa? Karena perbankan membutuhkan waktu untuk menghitung-hitung kembali kebutuhannya dan mengatur strategi berdasarkan struktur dana, overhead cost, regulasi yang berlaku, kondisi makro ekonomi, peluang pasar, dan tentunya perbaikan neraca bank yang sempat terpukul cukup keras pada tahun 2008 yang lalu.
ini menjadi pertanyaan kita issue tight money policy, apakah masih akan diberlakukan oleh perbankan. Perbankan saat ini, tidak menerapkan tight money policy, tapi menerapkan healthy risk management untuk menjaga likuiditas yang dapat dikatakan merupakan detak jantung dari perbankan itu sendiri. Apa bedanya? Begini kira-kira penjelasan sederhananya. Tight money policy biasanya dikaitkan dengan kesulitan likuiditas suatu institusi, baik itu bank atau suatu negara yang disebabkan oleh ketimpangan antara pos pendapatan dengan pos pengeluaran. .

Adapun yang sedang perbankan kita alami saat ini adalah menahan diri untuk tidak terlampau agresif di market. Gampangnya, mendingan untung 5 rupiah tapi pasti, daripada untung 10 rupiah tapi unsur gamblingnya tinggi. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini perbankan di Indonesia lagi getol-getolnya menggalang dana pihak ketiga, tapi fenomena ini menurut saya tidak akan berlarut-larut. Hanya tinggal menunggu hitungan bulan saja untuk kita kembali merasakan atmosfer kompetisi kredit yang memanas. Toh, bank harus tetap tumbuh dan profit kan? Saya jadi teringat satu hal, mungkin dapat dijadikan bahan acuan bagi Bapak dan Ibu dalam menentukan di bank mana Anda dapat menyimpan dana Anda dengan tenang, mengingat kompetisi funding pricing saat ini sudah mulai memasuki era yang tidak rasional.

Walaupun memang penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dapat mengcover sampai dengan 2 milyar rupiah dana simpanan Anda, namun tidak ada salahnya kalau kita pun berhati-hati dalam menyimpan dana kita, karena LPS pun hanya menjamin dana yang memiliki pricing “wajar”. Yang paling utama adalah, jangan tergiur dengan funding pricing yang tinggi. Logikanya saja, jika kita ditawarkan suku bunga deposito oleh bank X sebesar, let’s say 14% untuk tenor 1 bulan, kita dapat membayangkan berapa suku bunga kredit yang harus dibebankan oleh bank X ke debiturnya.Bisa-bisa suku bunga kredit menembus angka 20% lebih. Kalau sudah begitu, siapa yang mau kredit? Otomatis bank X akan mengalami kesulitan dalam menyalurkan kreditnya, walaupun bank tersebut punya dana banyak. Ujung-ujungnya, pendapatan bank akan anjlok, dan kemudian Game Over! sebarkanlah dana kita di beberapa bank.

Dengan demikian, kita sudah melakukan penyebaran resiko yang mungkin muncul. Pahit-pahitnya kita dapat bunga sebesar, katakanlah seribu rupiah, dengan kemungkinan rugi seratus ribu rupiah. Masih lebih baik toh? Dibandingkan kita mendapatkan bunga dua ribu rupiah, dengan kemungkinan rugi dua ratus ribu rupiah. Begitulah kira-kira cara Bank menentukan pricingnya. Jadi tidak sesederhana BI rate turun, suku bunga juga ikutan turun dalam sekejap. Masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan Bank dalam menentukan pricingnya seperti struktur dana terkait dengan cost of fund, likuiditas, target market terkait dengan peluang pasar, resiko yang mungkin timbul, makro ekonomi, regulasi, dan expected profit.